
Title/Author: Flowers Bloom on War Field/heeShinju
Genre/Length/Rate: AU, Science Fiction/One Shot/PG
Casts: Big Bang, 2NE1
Disclaimer: I only own the plot, the characters are all belong to themselves, do not take it out without permission.
WARNING! Do not read while eating, some part maybe disgusting.
Happy read and I hope you enjoy it.
Tahun 3147.
Pemanasan global, yang bermula sejak akhir abad ke-20, belum juga ditemukan penyelesaiannya. Bumi yang semula dipenuhi kilau air yang biru dan hutan yang hijau, kini terlihat cokelat dan merah di mana-mana. Retakan-retakan tanah kering ada di mana-mana. Badai pasir dan debu tidak hanya terjadi di gurun, karena sekarang seluruh permukaan bumi adalah gurun. Anak-anak yang terlahir tidak pernah tahu bagaimana indahnya air sungai yang mengalir, begitu kurus dan rapuh karena kekurangan gizi. Hujan hanya turun setahun sekali, jika beruntung.
Seolah semua itu belum cukup, perang meletus di mana-mana. Manusia tetap serakah sedangkan bumi tak lagi menghasilkan, akibatnya mereka berkelahi dan saling memperebutkan, lebih ganas dari pada pasukan hyena di malam hari. Mereka yang tamak dan kuat akan terus berseteru, saling menyakiti dan membunuh. Mereka yang lemah terjepit di tengah-tengah. Mereka yang pasrah duduk diam menunggu kematian. Mereka yang ingin mengembalikan perdamaian, bersembunyi dalam bayang-bayang. Populasi manusia menurun 80%, dan angka itu terus membengkak… jika ada yang peduli.
***

Tempat itu bagaikan kota mati. Tanah kering sebagai alas kaki, gedung-gedung setengah utuh sebagai tempat berlindung. Tidak ada suara manusia tertawa maupun menangis, mereka sudah melupakan dua emosi itu, hanya berpikir bagaimana bisa bertahan hidup sampai besok. Entahlah dulunya kota itu memiliki nama atau tidak, tidak ada seorang pun yang memiliki ruang sisa di kepala mereka untuk mengingat nama kota yang bahkan telah mati sebelum mereka lahir. Jangankan kota, negara apa, benua apa saja tidak ada yang peduli. Batas wilayah dan etnik tidak penting lagi. yang penting hanyalah bagaimana diri mereka bertahan hidup.
Di kota mati itu lah, mereka berkumpul sebagai sesama orang lemah, membentuk semacam komunitas untuk bertahan. Tinggal di dalam salah satu reruntuhan gedung, dengan makanan dan minuman yang minim. Jika ini kelompok lain, mungkin setiap hari sudah ada pembunuhan untuk berebut makanan yang dianggap wajar—bahkan mereka sudah mulai berpikir untuk memakan sesama manusia jika benar-benar tidak ada lagi makanan.
Tapi, tidak—kelompok ini tidak seperti itu. Mereka terdiri dari orang-orang yang mengharapkan perdamaian dan ingin kehidupan kembali seperti semula, namun mereka terlalu takut untuk melakukan apa-apa. Yang bisa mereka lakukan adalah saling menghibur dan berbagi, bergantian merawat anak kecil dan yang sakit. Di neraka dunia ini, mungkin tempat ini lah satu-satunya surga yang tersisa.
Dan di antara mereka, ada beberapa pemuda dan pemudi yang masih memiliki semangat hidup dan bermimpi untuk meraih kehidupan yang layak sekali lagi.
***
GD sedang berjalan-jalan, menempuh rute yang sedikit lebih jauh dari yang biasa dilakukannya setiap hari. Yah, dia memang menyebutnya ‘berjalan-jalan’ tetapi yang sesungguhnya dilakukannya lebih mirip patrol, perburuan, dan pengintaian. Dengan senapan di punggung dan pisau belati di pinggang, ia akan mengendap-endap atau merangkak dari balik batu ke batu, tembok ke tembok, dengan pandangan dan pendengaran yang ditajamkan. Ia dan teman-temannya harus melakukan itu setiap hari untuk menjaga keamanan kelompok mereka.
Sekali dalam sehari mereka keluar dari persembunyian dengan cara seperti itu, menyebar ke arah yang berbeda-beda untuk mencari air, makanan, pakaian, peralatan, apa saja yang kira-kira berguna untuk hidup. Jika beruntung, saat kembali nanti, salah satu dari mereka membawa makanan berupa bangkai tikus atau ular kurus yang ditemukan dan kelompok mereka menikmati daging itu tanpa mengeluh, malah bersyukur mendapatkan daging dan bukannya bubur tepung. Jika sial, mungkin salah satu dari mereka tidak kembali. Mungkin kecelakaan, mungkin jatuh, atau mungkin terbunuh, dan tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menduga-duga dan saling bertukar pandang tanpa air mata. Jika itu terjadi biasanya salah satu dari mereka hanya akan berguman, “Dia sudah berjuang,” dan mereka kembali ke persembunyian untuk menyampaikan berita itu pada yang lain.
Dalam beberapa kesempatan yang lebih sial lagi, mereka tidak mati, namun diikuti oleh musuh dan tempat persembunyian mereka ketahuan. Jika itu terjadi, mereka harus membagi diri, beberapa menghadapi musuh sementara beberapa cepat-cepat memimpin sisa kelompok untuk kabur lewat gorong-gorong bawah tanah yang berkarat dan mengering, kemudian bersembunyi di sana selama beberapa hari sebelum bisa keluar dan mencari tempat persembunyian yang baru. Namun, dalam serangan seperti itu, pasti ada saja yang meninggal. Orang-orang tua atau orang sakit yang tidak mampu berlari akan memilih diam dan dibunuh daripada memaksakan diri mengikuti kelompok dan membocorkan posisi yang lain kepada penyerangnya. Kadang, para pemuda yang sehat dan bugar pun tewas ketika menghadang para penyerang itu. Anak-anak mungkin selamat, tapi tidak ada anak-anak yang benar-benar ‘hidup’ setelah beberapa kali dalam hidup mereka melewati malam-malam mengerikan tanpa tidur di bawah gorong-gorong, sementara tiga meter di atas kepala mereka, suara tembakan dan ledakan terdengar tanpa henti.
Belajar dari pengalaman pahit itu, sekarang mereka lebih berhati-hati. Hanya ada beberapa pemuda berpengalaman yang dipercayai untuk pergi keluar dan berburu atau mencari tahu posisi kelompok lain. GD adalah salah satunya. Secara tidak resmi, dia adalah pemimpin kelompok mereka, karena dia lah yang memiliki semangat yang paling besar di dalam kelompok mereka, semangat untuk tetap bertahan hidup sebagai manusia, bukan sebagai binatang buas. GD dan teman-temannya yang dipercayai menopang misi keluar tersebut mengucapkan sumpah setiap hari. Sumpah untuk lebih baik mati dari pada terlihat oleh musuh dan diikuti sampai ke tempat persembunyian. Dengan sumpah itu lah mereka menjaga kelangsungan hidup mereka.
Terdengar suara engahan nafas di suatu tempat, dan GD refleks menarik senapan dan mengokangnya.
“Siapa itu?” desis GD.
Selama beberapa saat, GD menunggu datangnya serangan, namun tidak ada yang terjadi. Suara nafas itu masih terdengar, dan GD menyimpulkan bahwa suara nafas itu lebih terdengar seperti suara orang sekarat dari pada musuh yang mengendap-endap. Tanpa menunrunkan kewaspadaan dan senapannya, GD melangkah ke balik reruntuhan tembok, tempat dipercayainya suara itu berasal. Seorang anak perempuan kumal dan kurus duduk menyandar pada tembok itu. Mata anak itu terpejam, bibirnya yang kering terbuka, ia dehidrasi.
***
Di masa-masa ini, kasih sayang adalah barang yang lebih langka dari pada air. Tetapi dalam kelompok ini ada dua orang gadis bernaman Dara dan Bom yang tak henti-hentinya mengucapkan kata cinta bagi kelompok itu. Kedua gadis itu bagaikan oasis dalam kelompok ini. Mereka berdua lah yang menjauhkan kelompok itu dari ketamakan, iri, dan dengki yang merupakan akar pembunuhan. Mereka berdua lah yang membuat semua orang di kelompok ini masih bisa disebut manusia.
Setiap malam, diterangi cahaya temaram lampu 5 Watt, kelompok ini duduk membentuk lingkaran, saling berpegangan tangan dan diajarkan bahwa mereka saling memiliki dalam kelompok ini. Dara dan Bom akan meminta semua orang untuk berbicara, untuk menceritakan hari mereka. Tentu saja kebanyakan tidak akan mengatakan apa-apa, karena semua orang melalui hari-hari hambar yang sama. Di saat-saat itu lah, anak-anak menunjukkan peran mereka dalam kelompok itu.
Sepanjang hari anak-anak itu di persembunyian, membantu orang dewasa bekerja—ada yang berusaha menanam sayuran, menumbuk tepung, atau menjahit kain perca. Mereka jarang berbicara karena semua orang memang jarang berbicara. Mereka jarang tertawa dan menangis karena semua orang sudah melupakan cara tertawa dan menangis. Namun di malam hari, di bawah curahan kasih sayang Dara dan Bom, anak-anak tetaplah anak-anak, polos dan menggemaskan. Merekalah yang berlomba-lomba menceritakan hari mereka dalam lingkaran itu. Kemudian, selesai bercerita mereka maju untuk mendapatkan hadiah mereka, sebuah pelukan dari Dara atau kecupan dari Bom sebelum mereka tidur.
***
Sudah seminggu sejak GD membawa anak perempuan itu ke kelompok ini. Pada hari pertama kedatangannya, anak itu diberi tiga cangkir air keruh, tiga kali jatah yang seharusnya diperoleh setiap orang. Walaupun banyak mata memandang iri ketika Dara meminumkan air itu sedikit demi sedikit pada anak perempuan itu, tidak ada satu pun yang protes. GD telah memerintahkan agar anak itu dirawat, dan mereka semua tahu bagaimana rasanya sekarat karena semua orang pernah sekarat.
Setiap malam, begitu kembali dari ‘berjalan-jalan’, GD akan menengok anak itu sebentar dan acara itu adalah hal yang paling ditunggu-tunggu anak itu setiap hari. Dara telah memberitahunya bahwa GD lah yang menemukan dan membawanya kemari, sehingga secara naluriah, tumbuh rasa sayang dalam diri anak itu terhadap GD. Dara mengajari anak itu menjahit dan menumbuk tepung, juga memberitahunya bahwa jika dia ingin makan, maka dia harus bekerja. Semua orang dalam kelompok harus bekerja, kecuali mereka yang sakit. Anak itu mengangguk patuh, bekerja dengan rajin seperti anak-anak lain, mengharapkan pujian dari GD saat pemuda itu pulang. Namun pujian yang diharapkannya itu tidak pernah datang.
Segera saja anak itu mengerti bahwa posisi GD dalam kelompok ini sangat penting. GD adalah pemimpin mereka, dia tidak bisa hanya memperhatikan satu orang saja secara khusus. Lagi pula, GD nyaris tidak memiliki waktu untuk itu. Waktunya di siang hari dihabiskan untuk ‘berjalan-jalan’ dan di malam hari dia akan membuka peta dan mendiskusikan ‘jalan-jalan’ berikutnya dengan beberapa pemuda lain yang dipercayanya, kemudian dia akan memeriksa persediaan makanan dan senjata. Karena itu lah, setelah anak perempuan itu sembuh total, GD tidak pernah lagi khusus menyempatkan diri untuk menengoknya. Namun demikian, anak perempuan itu tidak akan pernah lupa bahwa GD lah yang menyelamatkan nyawanya.
***
Seungri adalah satu-satunya anggota kelompok ‘jalan-jalan’ yang mengkhususkan dirinya pada pencarian buku. Setiap reruntuhan gedung yang dilaluinya saat ‘jalan-jalan’ akan dimasukinya, berharap menemukan buku. Buku memang telah berhenti diproduksi, karena toh buku tidak bisa dimakan. GD sering memarahinya dan memaksanya melupakan buku-buku itu, namun Seungri bersikeras.
“Aku tidak ingin pikiranku juga terkurung dalam tempat persembunyian kita selagi tubuhku terpaksa terkurung di dalamnya. Buku-buku ini bukti nyata bahwa dulu sekali, bumi dan kehidupan manusia adalah sesuatu yang indah,” ucap Seungri selalu.
“Aku tidak mau ada anggota kelompok ini yang hidup dalam khayalan. Buku-buku ini membuat matamu tidak melihat buruknya kenyataan yang harus kau hadapi sekarang,” begitu balas GD.
“Aku tidak mengkhayal. Jika ingin perubahan, terlebih dulu kita harus memiliki pengetahuan. Buku-buku ini mengajarkanku bagaimana menumbuhkan tanaman dari tanah, bagaimana memperkirakan bubuk mesiu yang diperlukan untuk meledakkan suatu tempat, bagaimana mencegah penyakit menggawat,” bantah Seungri lagi.
GD tahu Seungri benar, bahwa pengetahuan yang diperoleh Seungri dari buku-buku itu sering menyelamatkan kelompok mereka. Namun, GD tidak ingin Seungri mendahulukan buku dari pada air dan makanan. Buku adalah hasrat pribadi Seungri, sementara air dan makanan adalah yang diperlukan kelompok ini. Alasain lain GD tidak suka Seungri membaca adalah sesuatu yang tidak akan pernah dikatakannya. Bahwa suatu waktu ia bermimpi Seungri tertembak saat sedang asyik membaca dan tidak menyadari kedatangan musuh yang mengendap-endap di belakangnya. Mimpi yang konyol sekaligus menakutkan.
***
Hari ini Seungri menemukan sebuah buku yang sangat indah. Buku itu menceritakan sebuah dongeng dengan kalimat yang sederhana dan gambar-gambar yang tetap terlihat indah walaupun kertasnya sendiri sudah menguning dan pinggir-pinggirnya telah dimakan ngengat.
“Ini pastilah buku untuk anak-anak! Ternyata di saat damai dulu, anak-anak bisa membaca. Aku harus mengajarkan anak-anak di kelompok kita untuk membaca juga,” kata Seungri pada GD.
“Oh, itu ide yang bagus,” ujar Bom setuju. “Kenapa tidak dari dulu terpikir olehku? Anak-anak bisa belajar tentang kasih sayang dari dongeng, bukan?”
GD mengerutkan wajah, dengan setengah hati mengizinkan, “Asal jangan sampai mereka melupakan pekerjaan mereka.”
Maka, bersama Bom, sore itu Seungri mengumpulkan anak-anak.
“Aku punya sesuatu untuk kalian,” dia mengumumkan.
Anak-anak mendekat dengan mata berbinar, kemudian wajah mereka kembali datar saat melihat bahwa yang dikeluarkan Seungri dari tasnya bukanlah makanan. Seungri membuka halaman demi halaman buku bergambar, dengan bersemangat membacakan dongeng yang tertulis di buku itu. Namun, bagi anak-anak yang lapar dan lelah setelah bekerja membantu para orang dewasa, dongeng adalah hal terakhir yang mereka inginkan. Satu persatu mereka meninggalkan lingkaran, kembali bekerja atau tidur.
Hanya anak perempuan yang beberapa hari lalu dibawa GD yang tetap duduk di tempatnya, terpukau pada buku yang ditunjukkan Seungri. Sepanjang ingatan anak itu, belum pernah dia melihat sesuatu yang memiliki begitu banyak warna. Warna yang diketahuinya hanyalah warna kuning tanah, warna kelabu batu dan reruntuhan, serta warna cokelat sayuran layu yang tumbuh di ladang kecil mereka yang kering. Tapi dalam buku itu ada begitu banyak warna dan benda-benda yang belum pernah dilihatnya.
“Kau mau menyentuh buku ini?” Seungri menawarkan.
Anak perempuan itu mendekat, mengulurkan jari-jarinya yang kurus dan kukunya yang kotor, kemudian mengelus halaman buku itu. Benda paling halus yang pernah disentuhnya.
Seungri meletakkan buku itu di tanah, membiarkan anak perempuan itu membalik-balik halaman buku itu.
“Aku tahu bahwa orang-orang tidak banyak berbicara, tapi rasanya aku belum pernah mendengar kau berbicara, bahkan di malam hari saat semua anak berbicara untuk mendapatkan pelukan Dara dan Bom,” kata Seungri.
“Dara dan aku menduga anak ini bisu. Kami tidak berhasil membuat dia mengatakan satu kata pun,” ujar Bom. “Kami bahkan belum tahu namanya.”
Saat itu, anak perempuan itu terkesiap melihat satu halaman yang baru saja dibaliknya. Seungri mendekat untuk ikut melihat, halaman itu dipenuhi gambar bunga berwarna-warni.
“Itu bunga,” Seungri memberi tahu, “kkot.”
Kemudian, anak itu membuka mulutnya dan meniru ucapan Seungri, “Kkot?” membuat Bom berseru kaget.
“Benar, kkot—bunga, tanaman indah yang tumbuh dari dalam tanah,” jelas Seungri. “Kau belum pernah melihatnya?” tanyanya.
Anak perempuan itu menggeleng.
“Begitu juga denganku. Kurasa, tak seorang pun di sini yang pernah melihat bunga hidup. Jika saja aku tidak menemukannya di buku, aku tidak akan pernah tahu bahwa ada tanaman seindah itu,” kata Seungri.
Anak perempuan itu masih terkagum-kagum pada gambar itu. “Kkot, kkot,” gumamnya berulang-ulang
Dan demikianlah, anak perempuan itu terus menerus menggumamkan kkot, kkot, sepanjang hari itu sampai pada titik semua orang memutuskan memanggilnya Kkot dan anak perempuan itu senang dengan nama barunya. Sejak itu, setiap kali Seungri terlihat sedang membaca, Kkot diam-diam ikut melihat dari balik punggung Seungri. Buku-buku yang dibaca Seungri tidak ada yang bergambar, namun Kkot telah mengerti bahwa buku dapat memberitahunya hal-hal baru. Kkot resmi menjadi murid Seungri, ia belajar membaca dan hanya di saat membaca ia mau bersuara.
***
Makanan benar-benar sulit didapat. Sehari biasanya setiap orang dalam kelompok akan mendapatkan jatah secangkir air dan segenggam tepung yang dipaksakan menjadi roti. Airnya juga keruh dan rasanya lengket, namun lebih baik dari pada tidak makan sama sekali. Sesekali, jika kelompok ‘jalan-jalan’ berhasil menangkap tikus, mereka akan makan daging yang digoreng tanpa minyak dan dibumbui garam. Pernah sekali waktu, Taeyang menyeret bangkai sapi pulang. Para wanita kemudian mengikis habis daging yang masih bisa dikikis dari tulang sapi itu, dan mereka mendapatkan daging selama seminggu.
“Di belahan lain bumi, mungkin masih ada hewan besar seperti gajah atau kuda nil. Alangkah senangnya seandainya di tempat kita ini ada binatang-binatang seperti itu untuk dimakan,” kata Taeyang.
Kkot tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk gajah atau kuda nil itu. Dia dan anak-anak lain belum pernah melihat hewan selain tikus dan lalat. Dalam buku bergambar yang diberikan Seungri kepadanya, ada gambar hewan berbulu yang lucu, berkaki empat, bertelinga panjang, dan makan sesuatu—yang kata Seungri namanya sayur wortel—bernama kelinci. Seungri bilang, dulu manusia dan hewan berteman. Manusia memelihara kucing, anjing, kelinci, marmut, burung, dan ikan. Entah bagaimana rupa hewan-hewan itu, Kkot tidak bisa membayangkan. Khususnya burung dan ikan. Seungri bilang burung bisa terbang dan ikan hidup di air. Sulit sekali membayangkan ada makhluk hidup di air sementara air yang pernah dilihat Kkot hanyalah air keruh dalam cangkir yang tiap hari dibagikan Dara pada semua orang di kelompok.
***
Sejak saat dia ‘ditemukan’ sampai sekarang, Kkot masih memakai pakaian kumalnya yang itu-itu juga. Hari ini Bom memberinya pakaian baru yang bersih. Pakaian itu tidak cantik atau bermodel, hanya kain yang disatukan dan dijahit seadanya hingga berbentuk pakaian. Ukurannya juga sangat kebesaran sehingga Kkot harus menggulung lengan baju dan pipa celananya berkali-kali. Di saat ini, memang tidak ada lagi yang namanya usaha tenun. Orang-orang membuat pakaian sendiri dari kain yang berhasil mereka temukan dan ukurannya memang sengaja dibesarkan. Selain pakaian longgar dapat melindungi dari panas dan angin dengan baik, pemakainya juga bisa memakainya dalam waktu lama tanpa takut pakaian itu menjadi sempit.
“Ini adalah satu-satunya pakaian yang akan kau dapatkan, jadi jaga baik-baik, mengerti?” kata Bom sambil memakaikan pakaian itu ke tubuh Kkot. “Jika ada yang sobek, kau harus menambalnya sendiri. Jika rusaknya benar-benar parah, atau suatu hari nanti pakaian ini menjadi sempit karena kau tumbuh, kau harus membuat sendiri pakaian barumu.”
Kkot mengelus pakaian bersih yang menempel di tubuhnya dengan senang. Ia mengangguk mengerti.
***
Salah satu alasan bagus kenapa hanya ada beberapa orang yang diperbolehkan GD ikut ‘berjalan-jalan’ adalah ranjau darat. Benda-benda itu tidak bisa terdeteksi. Bisa saja kau tidak sengaja menginjaknya kemudian bum! Alasan bagus lain adalah, banyaknya benda-benda seperti granat di mana-mana. Walaupun tidak segera meledak, bukan ide bagus membayangkan benda itu tidak sengaja terguncang dan meledak.
Namun anak-anak tentu tidak mengerti alasan kecemasan GD itu. Dari waktu ke waktu, mereka menyelinap ke luar tempat persembunyian untuk bermain dan jika ketahuan, kemarahan GD bisa bertahan selama tiga hari. Seorang pemuda bernama Top lah yang akhirnya membuat anak-anak itu berhenti keluar tanpa izin GD.
Top meminta izin untuk tidak ikut ‘jalan-jalan’ hari itu. Dia mengumpulkan anak-anak, kemudian menggulung pipa celana kirinya. Anak-anak tertegun melihat kaki palsu Top. Mereka tidak pernah tahu, tidak pernah menyangka bahwa bukan kaki manusia yang ada di balik celana Top, karena Top berjalan normal seolah-olah kakinya sehat. Alasan untuk itu tentu saja adalah kerasnya hidup yang menuntutnya untuk terbiasa berjalan di atas kaki palsu yang disambungkan pada betis kirinya saat dia masih kecil.
“Ini,” kata Top keras, “adalah akibat dari ranjau darat. Dan aku beruntung, bukan aku yang menginjaknya. Temanku yang menginjak ranjau tersebut dan ledakannya menewaskannya dalam sekejap. Aku hanya kehilangan sepotong kaki kiriku, tapi temanku kehilangan nyawanya.”
Kau mungkin bertanya-tanya, bagaimana mungkin para orang dewasa mengizinkan Top menceritakan hal keji itu pada anak-anak. Tapi, di saat ini, anak-anak terbiasa dalam hidup keras dan kenyataan yang buruk. Justru dengan tidak menjauhkan mereka dari kenyataan lah cara orang dewasa melindungi anak-anak dari bahaya. Mereka diajarkan untuk berhati-hati dan waspada.
***
Daesung adalah salah satu anggota kelompok ‘jalan-jalan’ yang dipilih GD. Pemuda itu satu-satunya yang tersenyum setiap hari dalam kelompok ini. Dia adalah dinamo keceriaan dalam kelompok ini. Tidak seperti anggota kelompok ‘jalan-jalan’ lainnya yang tiap malam memilih memeriksa peta dan strategi bersama GD, Daesung lebih memilih bergabung bersama lingkaran Dara dan Bom. Dari mulut Daesung, cerita ‘jalan-jalan’ tidak terdengar mengerikan karena dia akan mengatakan hal-hal seperti, “Aku menemukan bangunan yang begitu miring, sehingga ketika aku bersandar, bangunan itu rubuh.”
Sebenarnya itu bukan hal lucu. Bayangkan, bangunan yang rubuh! Salah-salah Daesung bisa saja tertimpa dan mati olehnya, itu hal yang berbahaya. Seandainya GD atau Top yang menceritakannya, semua orang akan tegang karena mereka akan berkata, “Ada lagi bangunan yang rubuh, keadaan semakin berbahaya, kita bahkan tidak bisa lagi berlindung di balik tembok tanpa resiko tertimpa,” dan kemudian orang-orang akan semakin takut keluar rumah. Namun, cara Daesung menceritakannya membuat orang mau tidak mau berpikir bahwa sesuatu bisa dilihat dari sudut yang berbeda. Bukannya ketakutan dan jera, Daesung tertawa lega karena masih hidup.
***
Sudah berbulan-bulan Kkot bergabung dengan kelompok ini, walau tentu saja dia tidak menyadarinya. Akibat pemanasan global yang sangat parah, sudah tidak ada lagi pergantian musim. Berkat Seungri lah kelompok ini mengenal penanggalan dengan cara menggoreskan hari di tembok setiap malam. Jika sudah mencapai goresan ke-365 nanti, maka itu berarti mereka berhasil bertahan hidup setahun lagi dan ini wajib dirayakan, atau setidaknya itu lah yang dikatakan Daesung.
“Kata Seungri, orang-orang dulu setiap tahun merayakan ulang tahun atau tahun baru,” ujar Daesung gembira.
Semua orang tidak mengerti, apa itu ulang tahun? Apa itu tahun baru? Sebagian bahkan baru mendengar kata itu untuk pertama kalinya, misalnya saja anak-anak yang bahkan kebanyakan tidak pernah mengenal wajah ibu mereka. Seungri berusaha menjelaskan sebisanya, berbekal buku, apa itu ulang tahun, tahun baru, dan perayaan, tetapi penjelasannya tidak bisa dimengerti karena yang menjelaskannya saja belum pernah berulang tahun seumur hidupnya. Di antara mereka, mungkin hanya orang-orang yang paling tua lah yang pernah mendengar istilah itu dari orang tua atau kakek-nenek mereka. Tetapi, mereka telah hidup dalam banyak penderitaan sehingga tidak merasa ingin menjelaskan arti istilah-istilah itu. Mungkin juga mereka berpendapat percuma mengetahui suatu istilah yang tidak mungkin terjadi lagi.
Semua orang berpendapat keinginan Daesung untuk merayakan pergantian tahun adalah hal bodoh. Bergembira karena kekeringan dan perang? Tidak ada yang patut dirayakan dari kedua hal itu.
“Itu lah akibatnya, sudah berkali-kali kuingatkan jangan terlalu banyak membaca hal-hal tidak penting,” tegur GD.
“Bukan kekeringan dan perang, tetapi kehidupan lah yang ingin kurayakan. Apakah salah jika kita senang karena masih hidup?” tanya Daesung.
GD diam saja. Dia mengerti apa yang hendak disampaikan temannya itu, namun dengan beban keselamatan dan hidup seluruh anggota kelompok di bahunya, GD tidak bisa mengizinkan pikiran untuk bersantai dan bersenang-senang menyusup di kepalanya.
***
“Kkot, kemari sebentar,” panggil Daesung suatu malam.
Dengan penasaran, Kkot menghampiri Daesung. Pemuda yang jauh lebih besar darinya itu menoleh ke kanan kiri dengan gugup, lalu berkata, “Jangan bilang siapa-siapa, ya.”
Kemudian, dari kantongnya, Daesung mengeluarkan benda bulat berwarna-warni indah dan bertangkai. Mata Kkot membulat demi melihat benda itu. Daesung tersenyum lebar hingga gigi taringnya terlihat.
“Ini makanan, namanya permen,” kata Daesung.
“Permen?” ulang Kkot.
“Benar, permen. Rasanya manis dan sangat enak. Aku menemukannya di salah satu bekas supermarket dan yang ini kelihatannya masih bagus. Cobalah,” Daesung membuka plastik pembungkus permen itu dan menyodorkannya pada Kkot.
Kkot mencoba menggigit permen itu. Sedikit keras dan susah dikunyah oleh rahang yang terbiasa makan roti lembek dari tepung setiap hari, lagipula segera saja gigi-gigi Kkot menjadi lengket satu sama lain dan untuk beberapa saat dia tidak bisa membuka mulutnya. Tetapi akhirnya semua permen itu lumer dalam mulutnya dan dia bisa kembali berbicara.
“Enak, tidak?” tanya Daesung yang sebenarnya juga belum pernah makan permen.
Kkot mengacungkan permen itu kepada Daesung, menyuruh pemuda itu menggigit sedikit permen dan kemudian dia merasaka pengalaman yang sama dengan Kkot.
“Mungkin kita seharusnya tidak menggigitnya begitu saja,” pikir Daesung.
Kkot menatap permen itu lama sekali, sampai Daesung merasa perlu bertanya, “Kenapa? Kau tidak mau makan lagi?”
Kkot menggeleng, “Aku tidak suka,” katanya, namun Daesung tahu Kkot berbohong juga mengapa anak itu berbohong.
Daesung tahu Kkot tidak nyaman merasakan makanan seenak itu tanpa anak-anak lain juga merasakannya, tetapi Kkot juga tidak akan berani membagikan makanan yang diberikan Daesung dengan diam-diam tanpa izin dari Daesung.
“Kalau kau tidak mau lagi, sebaiknya kita biarkan semua orang mencicipi permen ini. Bukan begitu?” usul Daesung.
Terbukti, begitu Daesung mengizinkannya, Kkot mengangguk dengan mata berbinar, kemudian berlari memanggil semua orang agar mencicipi permennya.
Sulitnya mendapatkan makanan membuat mereka semua mengerti arti kelaparan dan mensyukuri enaknya makanan yang didapat serta perasaan lega mengetahui semua orang kenyang. Karena itu lah, semua orang di kelompok ini tidak pernah makan kurang atau lebih dari yang dijatahkan dan jika ada kelebihan makanan, semuanya akan dibagi rata dengan adil. Karena itu, Kkot tidak bisa menerima kalau hanya dia yang merasakan permen itu.
Dan soal permen itu, Daesung menemukannya tergeletak di bawah reruntuhan rak-rak kayu. Karena masih terbungkus plastik, Daesung berpikir tentunya permen itu masih bisa dimakan. Sebenarnya permen itu sudah jauh melewati batas kadaluarsanya. Namun penderitaan selalu membuat orang menjadi lebih kuat. Permen yang sudah kadaluarsa itu bisa diterima oleh perut mereka yang terbiasa mencerna air keruh.
***
Ada kecelakaan kecil di tempat persembunyian kelompok ini. Semuanya berawal ketika Taeyang, yang bertanggung jawab akan persenjataan mereka, tidak sengaja menggesek sebuah kantong mesiu dan udara yang kering membuat sedikit api terpercik. Semua orang terbangun dengan panik mendengar suara letupan itu.
“Apa kita diserang?”
“Cepat, kabur ke gorong-gorong!”
Perlu waktu beberapa lama untuk menenangkan semua orang dan menjelaskan bahwa itu hanya letupan yang tidak disengaja. Selama beberapa malam berikutnya, Taeyang tidak pernah absen terlihat duduk di salah satu sudut ruangan, mengutak-atik bubuk mesiu tanpa banyak bicara. Orang-orang mengira ia sedang berusaha menemukan cara menyimpan bubuk mesiu yang aman dan tidak protes ketika tidur mereka terganggu oleh suara letupan dan ledakan kecil dari percobaan Taeyang. Hingga suatu malam semuanya terbangun karena pemuda pendiam itu berteriak senang.
“Lihat, cantik bukan?!” seru Taeyang sambil mengacungkan tongkat besi dengan percikan api melompat-lompat dari ujungnya.
“Oooh,” seru salah satu anggota kelompok yang telah sangat tua. “Aku ingat, kakekku pernah menunjukkan benda seperti itu padaku dulu sekali. Katanya itu bunga api atau semacamnya.”
“Bunga?” Kkot menimpali dengan tercengang, tidak pernah sekali pun melintas dipikirannya bahwa bunga-bunga indah yang dilihatnya di buku juga bisa berasal dari benda berbahaya seperti api. Namun kemudian, seperti orang-orang lain yang melihat dengan asyik, Kkot juga menganggap api yang ini indah, seperti bunga.
Hanya GD yang tidak ikut mendekati bunga api itu. Dia berdiri menyandar di pojok yang paling gelap. Dara melihatnya menyendiri lalu menghampirinya.
“Kau meletakkan terlalu banyak beban di pundakmu,” katanya. “Sesekali tersenyumlah. Menakjubkan bahwa di kelompok kita masih dapat ditemukan kegembiraan-kegembiraan kecil seperti ini.”
GD tidak menjawab apa-apa, namun ketika Dara meliriknya, dia yakin api dari bunga api itu menipu matanya. Ada sesuatu yang berkilau berasal dari pipi GD, mengalir menuruni pipinya hingga ujung bibirnya yang tertarik ke atas.
***
Untuk pertama kalinya setelah bergabung dengan kelompok ini, Kkot merasakan ketakutan yang amat sangat. Malam itu, sebuah truk berhenti tidak jauh dari tempat persembunyian mereka. GD memberi isyarat pada seluruh anggota ‘jalan-jalan’ untuk menyiagakan senapan mereka. Tanpa suara, orang-orang dewasa menarik anak-anak untuk bersembunyi dalam gorong-gorong. Dara dan Bom memapah setengah menyeret orang yang sakit untuk ikut bersembunyi. Belum bisa dipastikan apakah orang-orang yang menumpang truk itu sedang mencari mereka atau hanya kebetulan berhenti di situ, tapi semua orang bersiap-siap menghadapi resiko terburuknya.
Keheningan yang mencekam, semua orang menahan nafas dan meruncingkan telinga untuk mendengar apa yang terjadi di atas. GD dan Top berdiri dengan senapan teracung di tangga gorong-gorong, menunggu kemungkinan terjadinya serangan. Beberapa saat berlalu tanpa ada yang terjadi, namun tidak seorang pun berani merasa lega. Benar saja, tiba-tiba terdengar suara ketukan di tutup lubang gorong-gorong di atas kepala mereka.
Semua orang bersiap-siap masuk lebih dalam ketika terdengar suara yang familiar berbisik dari atas lubang, “Ini kami. Apa kalian semua di dalam?”
Dari dalam gorong-gorong, suara itu terdengar bergaung dan tidak jelas. Tidak bisa dikenali siapa ‘kami’ itu, bisa saja itu tipuan.
“GD, ini aku, CL,” kata suara itu lagi.
GD masih tidak menjawab.
“Oh, bodohnya aku,” rutuk suara itu pada dirinya sendiri. “Burung biru kembali ke sarang,” dia mengucapkan sandi yang hanya diketahui anggota kelompok itu dan barulah semua orang merasa lega.
“Merpati putih terbang untuk pulang,” balas GD sambil membuka tutup lubang dan benar saja, yang berjongkok di atas lubang adalah CL.
Setelah semua orang keluar dari gorong-gorong, barulah GD menginterogasi CL dan Minzy, kedua gadis yang termasuk dalam kelompok ‘jalan-jalan’ dan dinyatakan menghilang seminggu yang lalu. Dara memeluk mereka bergantian, “Kupikir tak akan bertemu lagi dengan kalian,” ucapnya senang.
“Kami pikir juga begitu,” jawab Minzy, “ketika kami tertangkap oleh beberapa orang. Tapi untungnya kami berhasil melarikan diri, walau tidak mudah.”
Jelas tidak mudah, darah kering di bibir dan dahi Minzy menunjukkan hal itu, sedangkan CL mengernyit setiap kali dia bergerak, mungkin tulangnya ada yang patah.
“Lalu, truk itu?” tanya GD.
“Kami mencurinya,” jelas Minzy dengan nada meminta maaf, tetapi bukan karena mencuri, tentu saja.
GD menggeram, “Apa kalian sadar apa yang baru saja kalian lakukan? Kalian bisa saja membongkar tempat persembunyian kita pada orang lain! Mencuri truk! Oh, ya, truk sangat susah dilacak!” dia meledak.
“Beri kami kesempatan menjelaskan, GD,” pinta CL. “Kami mencuri truk itu agar dapat mengangkut kalian semua.”
“Mengangkut? Memangnya kita akan pergi ke mana?” tanya GD cepat.
CL dan Minzy menceritakan seringkas mungkin tentang orang-orang yang menangkap mereka. Dari cerita CL dan Minzy, orang-orang itu tampaknya sudah tidak bisa disebut manusia. Mereka kasar dan ganas. Kelompok mereka besar, namun mereka bertahan dengan cara menyerang kelompok lain dan merampas makanan mereka. Penampilan mereka berantakan dan liar. Melihat CL dan Minzy yang rapi dan lebih beradab, mereka menyebutkan sesuatu tentang kelompok perdamaian.
“Jauh ke utara sana, ada kota yang cukup besar, dihuni oleh orang-orang seperti kita yang tidak mau lagi berperang. Mereka membangun benteng dan di sana aman. GD, ayo kita pindah ke sana,” pinta Minzy.
“Kalian menyipulkan itu dari mana? Kata-kata mereka, bukan? Bagaimana kalau semua ini omong kosong?” GD masih tidak menerima.
Namun kelompok itu berdengung bagaikan lebah mendengar cerita CL dan Minzy. Sebuah kota yang aman, tempat impian. Semua orang tidak pernah mengeluh, tetapi nyatanya memang sulit sekali hidup dalam persembunyian berkepanjangan. Begitu mendengar ada kota yang aman, tentu semuanya ingin ke sana.
“Aku setuju dengan GD,” ujar Top. “Mungkin saja ini jebakan untuk memancing kita keluar, kemudian kita diserang.”
CL memanas, “Aku sudah cukup sering melihat orang berbohong. Aku tahu kota ini pasti ada.”
“Resikonya tinggi,” sela Seungri. “Baik kota itu ada maupun tidak, jika kita keluar dari tempat ini dan melakukan perjalanan, kita akan berada dalam bahaya.”
“Tapi, layak dicoba, bukan?” Daesung memberi pendapat.
“Menurutku, keberadaan kita di sini juga sudah tidak aman. Seperti kata GD, truk sangat mudah dilacak. Mari kita andaikan orang-orang yang menangkap CL dan Minzy tidak sengaja menyebutkan kota palsu, tapi mereka sekarang tahu CL dan Minzy kabur dengan mencuri truk mereka sehingga hanya soal waktu saja sampai mereka berhasil melacak kita ke sini. Jika demikian, dari pada diam menunggu serangan, akan lebih baik kita bergerak. Seandainya diserang pun, kita bisa melarikan diri dan mungkin dengan suatu cara akan sampai ke kota yang mereka sebutkan itu,” papar Taeyang.
Perdebatan berlangsung lama dan semakin memanas. Belum pernah mereka melihat kelompok ini terbagi menjadi dua kubu seperti ini, berteriak-teriak saling menunjuk. Jari-jari perlahan menggapai senapan masing-masing, hingga akhirnya GD melepaskan tembakan ke langit-langit dan ruangan menjadi senyap.
“Baiklah, karena tampaknya tinggal atau pergi memiliki resiko diserang yang sama, lebih baik kita pergi. Setidaknya ada kemungkinan kita bisa kabur dan menemukan tempat aman, bukannya dijadikan perkedel di sini,” putus GD. “Semuanya, naik ke truk. Kita berangkat sekarang juga.”
Terlatih bergerak diam-diam, semua orang naik ke truk dalam kegelapan tanpa suara. Semua orang, termasuk anak-anak, mempersenjatai diri—pistol sampai pisau. Tidak ada yang mengantuk, semua bersiaga dan waspada. Semua siap berangkat menempuh bahaya, sampai seseorang menyadari sesuatu yang hilang.
“Di mana Kkot?” tanya GD, menyadari anak itu tidak ikut menaiki truk.
Berpikir Kkot ada dalam tempat persembunyian, GD kembali ke sana. Namun Kkot tidak ada. Dengan transmitter rakitan sendiri, GD menghubungi Daesung di truk untuk memeriksa semua orang sekali lagi, tetapi Kkot tetap tidak ditemukan.
“Mungkin dia ketakutan melihat kita bertengkar tadi lalu dia kabur,” kata Seungri.
“KITA DISERANG!” teriak Top dari belakang.
Seketika suasana malam menjadi ramai. Sesuai perkiraan GD, orang-orang itu berhasil melacak truk dan mempersiapkan serangan.
“GD! CEPAT KEMBALI, KITA HARUS SEGERA PERGI!” teriakan Daesung, dilatarbelakangi teriakan dan tembakan yang sebenarnya juga terdengar dari tempat GD berada.
“Pergilah! Aku harus menemukan Kkot dulu! Aku akan menyusul!” perintah GD walau dia sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana dia bisa menyusul.
Di saat seperti ini, tidak ada waktu untuk menimbang. Dibebani keselamatan seluruh anggota kelompok di tangannya, Daesung tidak punya pilihan lain selain menginjak pedal gas kuat-kuat sambil berseru, “Sebaiknya kau selamat! Awas kalau tidak!”
***
Kkot memang ketakutan. Dia tidak pernah menceritakan asalnya pada siapa pun di kelompok itu sehingga mereka mengiranya tidak ingat. Tetapi Kkot ingat. Kelompoknya yang dulu hancur total dengan kejadian yang persis sama. Ada anggota kelompok yang kembali dengan cerita bahwa mereka kabur dari orang-orang jahat, dan kemudian orang-orang itu menyerang mereka. Karena itu lah, ketika CL dan Minzy bercerita, Kkot yakin hal yang sama pun akan terjadi kali ini. Dia begitu ketakutan, hingga tanpa berpikir panjang dia mengendap-endap keluar dan bersembunyi dalam salah satu gedung di dekat tempat persembunyian mereka.
Dari sana, dia melihat kelompoknya menaiki truk dan bersiap-siap pergi. Kemudian dia melihat GD kembali ke tempat persembunyian dan tak lama kemudian yang ditakutinya terjadi. Orang-orang itu datang menyerang kelompok mereka. Kemudian truk itu menderung pergi, dikejar kendaraan-kendaraan musuh. Sebagian musuh berkeliaran memeriksa bangunan sekitar sambil melepaskan tembakan kemana-mana. Mereka mencari GD. Mereka pastilah juga melihat bahwa GD belum menaiki truk.
Kkot semakin ketakutan, tapi dia tidak lagi merasa takut untuk dirinya, melainkan untuk GD. GD adalah penyelamat nyawanya, dia adalah satu-satunya yang tidak diinginkan Kkot untuk tewas. Kkot merasa ia harus menolong GD, entah dengan cara apa pun. Dia keluar dari gedung tempatnya bersembunyi dan berlari mencari GD. Sayangnya musuh lebih dulu menemukannya. Cahaya senter diarahkan padanya, dan suara tembakan terdengar. Kkot merasa tubuhnya melayang dan terbanting ke tanah.
“Di sini kau rupanya,” kata GD yang telah menolongnya, lagi. “Cepat, kita harus bersembunyi! Mereka terlalu banyak untuk kukalahkan!”
GD menarik Kkot berdiri dan menyeretnya berlari. Di belakang mereka, para musuh mengejar sambil menembak. GD menggendong Kkot, anak itu cukup kurus untuk dipeluknya sambil berlari dan dilindunginya dengan punggungnya. Sebuah tembakan lagi terlepas dan GD terjatuh. Kkot menjerit.
“Hanya… terserempet,” engah GD.
Pemuda itu kembali bangkit dan berlari sambil menggendong Kkot. Mereka masuk ke sebuah bangunan dan bersembunyi dalam tong besar yang banyak berjajar di bawah tanahnya. GD meletakkan tangannya di mulut Kkot agar anak itu tidak bersuara. Kkot bisa merasakan jantungnya berdebar-debar ketakutan ketika mendengar musuh memasuki gedung itu juga dan berada sangat dekat dengan mereka. Mereka turun ke bawah tanah dan mulai menyenter ke mana-mana. Lemari-lemari dirubuhkan dan ditembaki, begitu juga dengan tong-tong. Kkot hanya bisa berdoa agar tong tempat ia dan GD bersembunyi selamat.
Tiba-tiba Kkot merasakan benturan keras. Seseorang menendang tong mereka sampai terbalik dan berguling-guling. Luar biasa sekali GD bisa bertahan tidak terlempar keluar sambil tetap membekap Kkot agar tidak bersuara. Berkat itu lah, mereka tidak ditemukan dan orang-orang itu pergi. Walaupun demikian Kkot masih tidak berani bergerak karena suara orang dan tembakan masih terdengar dari luar gedung. Setelah suasana sepi, barulah dirasakannya pegangan GD mengendur dan Kkot berani merangkak keluar dari tong.
Hanya saja GD tidak ikut merangkak keluar.
Saat itu matahari sudah terbit dan beberapa berkas sinarnya masuk lewat celah-celah lantai kayu yang rapuh di atas kepala mereka. Cahaya itu membantu Kkot melihat dengan lebih jelas dan membuatnya terperanjat. Pakaiannya yang semula berwarna abu-abu, kini tertutupi noda-noda hitam besar, khususnya di lengan dan punggungnya. Darah memang berwarna merah, namun darah yang banyak akan berwarna hitam. Dan semua darah yang melekat pada pakaiannya adalah darah GD.
Kkot mulai menangis tanpa suara. Ia berusaha mengeluarkan tubuh GD dari dalam tong. Entah kekuatan dari mana, tapi anak itu berhasil membaringkan GD di lantai. Tapi, kemudian dia tidak tahu harus melakukan apa selain terus menangis. Nafas GD bergetar, wajahnya pasi. Pemuda gagah yang selama ini berdiri di garis depan, melindungi semua orang di belakang punggungnya, kini terbaring lemah.
“Jangan mati,” isak Kkot. “Jangan di sini. Kau tidak pantas mati di sini. Saat kau mati, kau harus dikelilingi bunga-bunga. Seperti buku Seungri. Karena kau orang hebat,” ucapnya kacau.
GD tersenyum tipis, “Aku sudah dikelilingi bunga selama aku hidup, kok… sekarang pun ada satu bunga di sini…” dia menggapai tangan Kkot. “Kau harus selamat… bersama yang lain… menuju kota yang aman… per…gilah…”
Kkot menggeleng, “Tidak. Kau harus ikut! Aku tidak mau pergi!”
“Di kota yang aman itu… pasti ada bunga… yang kau sukai… kau harus pergi ke sana untuk melihatnya… lalu… suatu hari nanti… kau bisa menceritakannya…”
GD tidak sempat menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ia memejamkan mata dan kepalanya terkulai ke samping, kemudian dadanya berhenti bergerak naik turun. Satu lagi bunga paling indah yang tersisa di bumi, gugur hari itu.
Tinggallah Kkot yang terpaku di tengah kesunyian tanpa batas.
***
__The End__
Makasih yang sudah baca… terutama Kak Rei ganteng dan Gres yang jadi pembaca pertama, juga Melia yang mau repot-repot ngirimin foto Big Bang dan 2NE1 buat saya edit jadi cover. Ini semua hanya khayalan saya yang terpengaruh oleh film-film dan buku bertema serupa. Amit-amit, deh, jangan sampai dunia jadi seperti ini. Semoga pemanasan global berhasil dihentikan dan bumi kita tetap hijau sampai akhir. Amin…
PS: Buanglah sampah pada tempatnya.
Kata orang, sih...